Kanker Serviks merupakan kanker yang terdapat pada area bawah rahim yang menghubungkan rahim dengan vagina. Penyebab utama dari kanker ini adalah virus HPV (Human Pappiloma Virus) terutama tipe 16 dan 18, penyebab sekitar 70% kanker mulut rahim. Kanker juga dapat dipicu oleh senyawa-senyawa yang bersifat karsinogenik seperti dioksin, nitrosamin, dan lain-lain. Kanker mulut rahim seringkali tanpa gejala sehingga sekitar 70% pasien datang dalam stadium lanjut.
Dalam fenomena penyakit terdapat istilah “gunung es” di mana angka insiden di lapangan bisa jadi lebih dari jumlah statistik yang tersedia. Menurut data Globocan 2002, terdapat 40.000 kasus baru kanker serviks dengan sekitar 22.000 kematian pada perempuan di Asia Tenggara. Indonesia mendapatkan peringkat pertama dengan 15.050 kasus baru dan kematian 7.566 jiwa dalam setahun / setiap 1 hari, kurang lebih 20 perempuan Indonesia meninggal akibat penyakit yang juga disebut Kanker Serviks.
Beberapa faktor yang menyebabkan seorang wanita mengalami kanker serviks, masih aktif secara seksual sejak dini (di bawah 20 tahun), suka bergonta-ganti pasangan seksual, merokok, sistem kekebalan tubuh yang lemah, terinfeksi penyakit menular seksual (gonorrhea, sifilis, HIV), melahirkan berulang kali, penggunaan kontrasepsi oral jangka panjang, dan penggunaan pembalut dan pantyliners yang tidak berkualitas.
Setiap wanita dapat beresiko terkena kanker ini, tidak peduli dari kalangan sosial dan ekonomi manapun. Mencegah kejadian kanker serviks sejak dini amatlah penting, kalau bisa, sedari remaja. Faktor-faktor di atas dapat dicegah satu per satu. Faktor yang tanpa kita sadari sejak remaja dan tidak terpikirkan adalah pemakaian pembalut dan pantyliners yang tidak berkualitas. Seperti dalam cuplikan berita di salah satu stasiun TV lokal, bahwa banyak pembalut tidak berkualitas beredar di pasaran terbuat dari bahan baku daur ulang yang menggunakan pemutih (bleaching) yang hasil sampingnya adalah dioksin yang bersifat karsinogenik dan menjadi biang kerok terjadinya kanker serviks.
Menurut laporan bulan Februari 2000 dari Food and Drug Administration, tampon dan produk-produk kewanitaan saat ini yang dijual di berbagai negara, termasuk AS terbuat dari kapas, rayon, atau campuran rayon dan katun. Meskipun produk ini sekarang diproduksi menggunakan unsur bebas klorin / benar-benar bebas proses pemutihan bebas klorin, metode ini masih dapat menghasilkan dioksin pada “kadar sedikit”.
Ini mungkin ada sejumlah dioksin dari sumber-sumber lingkungan bahan penyusun pembalut tersebut (di kapas, rayon / kapas , dan produk-produk kewanitaan). Sebaliknya laporan yang dirilis oleh US Environmental Protection Agency jelas menggambarkan dioksin sebagai ancaman kesehatan masyarakat yang serius. Laporan EPA menyebutkan, tidak ada tingkat “aman” dari paparan dioksin bahkan sisanya beresiko. Selanjutnya laporan EPA mengkonfirmasikan bahwa diosin adalah “bahaya kanker pada manusia” bahwa paparan dioksin juga dapat menyebabkan masalah reproduksi dan perkembangan parah (pada tingkat 100 kali lebih rendah daripada yang terkait dengan kanker yang menyebabkan efek), dan dioksin yang dapat menyebabkan kerusakkan sistem kekebalan tubuh dan mengganggu pengaturan hormon.
Jika setiap bulan seorang wanita pada saat haid dalam sehari mengganti 3 kali pembalut berkualitas rendah dan selama 7 hari setiap tahun sampai menopause, dapat dibayangkan berapa jumlah paparan dioksin yang dapat masuk ke tubuhnya?
Jelas sudah tampon, pembalut, dan pantyliners yang tidak berkualitas, terbuat dari bahan daur ulang yang diberi pemutih bersifat karsinogenik. Tidak bisa ditawar lagi, pakailah pembalut dan pantyliners bebas dioksin, terutama mulai sejak remaja samapi di usia menopause sekalipun.
NATESH Sanitary Pad&Pantyliner
Pilihan cerdas untuk Mencegah&Membantu mengatasi masalah organ intim&Reproduksi Anda
Hub: 081573758711
pin 29DB7338